Selasa, 18 Desember 2012

Bagaimana Jika Saya Selalu Dipandang Sebelah Mata? Kisah Benjamin Franklin


Bagaimana Jika Saya Selalu Dipandang Sebelah Mata? Kisah Benjamin Franklin

Benjamin Franklin (Massachusetts , 1706) memiliki kecintaan yang besar kepada buku. Dari kecil Benjamin selalu bermimpi untuk menjadi penulis terkenal. Mimpinya itu mulai terwujud ketika Ayahnya membuat perusahaan percetakan bernama The New-England Courant yang dikelola langsung oleh Kakaknya James.

Benjamin yang berusia 12 tahun mulai menjadi pekerja dan bertugas di  berbagai macam pekerjaan seperti: mengoperasikan mesin cetak, mengantar kertas ke pembaca hingga mengedit manuskrip Koran.  Seiring dengan pekerjaan dan hasrat dia untuk menjadi penulis hebat, Benjamin mengasah kemampuannya dalam menulis. Benjamin terus membaca karya-karya hebat penulis setempat dan bereksperimen membuat tulisannya sendiri.  

Berbekal ide-ide yang brilian dari hasil pembelajarannya, Benjamin memberitahu kakaknya James tentang artikel-artikel yang ingin dia tulis untuk dipublikasikan di Koran kakaknya. Namun James adalah seorang yang keras kepala dan menanggap Benjamin sebelah mata. James menganggap bisnis percetakan adalah bisnis yang sangat serius dan karya-karya Benjamin hanyalah karya anak-anak yang tidak pantas dipublikasikan. Label bahwa Benjamin hanya sebuah adik yang masih kecil melekat kuat di benak James.
Benjamin terus berusaha berdebat dengan kakaknya akan ide ini. Semakin Benjamin berdebat, Benjamin mulai mengalah karena dia tau James adalah orang yang sangat keras kepala dan tak ada gunanya berdebat dengan kepala batu. Walau mengalah dalam debat, Benjamin tidak pantang menyerah dan terus mencari cara agar tulisannya dapat dimuat di Koran kakaknya.

Tiba tiba Benjamin terpikir sebuah ide.Dia sadar bahwa yang tidak disukai James adalah dirinya. James sudah memberikan label adik kecil yang tidak pernah dewasa kepada Benjamin. Tandanya bila tulisan itu bukan dari Benjamin, James pasti mau menerimanya.

Benjamin terpikir untuk membuat sebuah tokoh fiksi yang akan membuat tulisan ke Koran kakaknya. Setelah berpikir lama, Benjamin memutuskan untuk membuat karakter berupa seorang janda bernama Silence Dogood yang memiliki opini yang sangat menyindir, aneh dan terus terang terhadap kota boston.

Guna membuat karakter fiksinya itu menjadi seolah-olah nyata, Benjamin mulai membayangkan kisah perjalanan janda tersebut dengan detil. Dia menghabiskan berjam-jam untuk berkhayal tentang karakter fiksinya itu. Dia berpikir dari segala aspek hingga Benjamin mulai menjiwai karakter fiksinya itu.

Dengan penuh imajinasi, Benjamin menulis tulisan pertamanya ke The New England Courant. James melihat tulisan tersebut dengan gembira dan langsung mempublikasikannya. Tulisan yang sangat jenaka dan sangat menyindir ini langsung menjadi terkenal di kota itu dan kelanjutan tulisannya selalu ditunggu masyarakat. James menganggap bahwa tulisan ini berasal dari penulis terkenal yang menggunakan nama samaran.

Di saat James sangat senang seiring menerima tulisan dari Nyonya Dogood, Benjamin hanya berpura-pura tidak tahu namun didalam hati dia tertawa puas. Reaksi kakaknya dan reaksi masyarakat lebih dari cukup untuk membuatnya merasa bahagia. Seiring dengan waktu, pekerjaan Benjamin mulai beragam dan Benjamin telah menjadi editor manuscript yang handal.

Percaya dengan kemampuannya, Benjamin ingin mengaku kepada James. Benjamin menganggap bahwa segala prestasi dia di bisnis Koran ini sudah cukup untuk membuat dia diakui di mata kakaknya James. Suatu hari Benjamin datang ke James dan mengaku bahwa sebenarnya yang menjadi Nyonya Dogood itu adalah dirinya sendiri. Benjamin juga membawa bukti tulisan-tulisan Nyonya Dogood.

Berharap ingin dipuji atau setidaknya ingin diakui oleh James, Benjamin malah mendapat perlakuan sebaliknya. James sangat marah kepada Benjamin. James merasa telah dibohongi mentah-mentah oleh adiknya sendiri. James sangat tidak suka dibohongi, apalagi oleh keluarganya sendiri. Semenjak saat itu, Benjamin kembali melakukan aktivitas sehari-harinya. Namun kali ini James benar-benar menjadi pemarah, dingin, selalu menghinda dan merendahkan pekerjaan Benjamin.

Hal ini membuat Benjamin tidak betah bekerja dengan kakaknya James. Berbekal ilmu yang dia dapat selama mengelola bisnis Koran, Benjamin pergi ke Philadelphia untuk mencari peruntungan. Tak lama setelah dia tiba di kota baru dan tak mengenal siapa-siapa, dia menjelajahi bisnis percetakan di kota itu dan bertemu Samuel Keimer. Skill Benjamin di atas rata-rata untuk umurnya di bidang percetakan, Benjamin menjadi orang yang sangat di percaya dan berpengaruh bagi Samuel Keimer. Benjamin pun bebas berkreasi di bisnis barunya itu.

Penjabaran:

Masyarakat yang terbangun sekarang adalah sumbangasih dari akumulasi kejadian di masa lalu. Akumulasi itu terbentuk dan menjadikan budaya yang ada sekarang. Label-label yang diberikan adalah hal yang umum terjadi di masyarakat. Anak laki-laki paling tua pewaris keluarga, adik yang selalu dibawah kakaknya, kakak tertua yang selalu dibanggakan, wanita yang dikesampingkan daripada pria dan lainnya adalah contoh umum yang sering kita jumpai.

Hal yang telah menjadi label cenderung sangat susah sekali dirubah. Lihat bagaimana Benjamin telah membuktikan diri bahwa dia pantas untuk menjadi penulis diimarahi oleh James dengan alasan merasa dibohongi. Jika anda berada dalam situasi yang diatas, ambillah pelajaran dari kisah di atas.
Anda dapat mengambil ilmu dari orang yang merendahkan anda atau memberi anda label, tapi jangan pernah minta penghargaan dari mereka. Jika anda meminta hal itu berarti anda melakukan hal yang sia-sia. Ambillah ilmunya sebanyak yang anda mau dan pindah lah ke tempat yang lain. Dengan skill dan pengetahuan yang anda miliki, sudah sangat dipastikan ada orang yang sangat menghargai anda. Untuk apa bersusah payah mencari pengakuan dari orang yang tidak menghargai anda, sedangkan di luar sana banyak orang yang menghargai anda.

Rabu, 12 Desember 2012

Apa yang harus dilakukan saat salah jurusan kuliah?


Saya merasa saya salah jurusan. Lalu apa yang harus saya lakukan?

Di usia 20 tahunan dimana seorang mahasiswa sedang berada di tahun ke 2 atau tahun ke 3 kuliahnya, sering muncul pertanyaan seputar jurusan kuliahnya. Apakah ini jurusan yang tepat untuk saya? Apakah saya benar-benar menginginkan jurusan ini? Saya rasa jurusan yang saya ambil bertolak belakang dengan cita-cita saya, lalu apa yang harus saya lakukan? Berdasarkan pertanyaan ini saya sebagai penulis juga mempertanyakan pertanyaan ini dan saya ingin menuliskan tentang jawaban saya. Saya akan memulainya dengan kisah Charles Darwin.
Charles Darwin
Charles Darwin yang lahir pada 12 Februari 1809 adalah bapak dari evolusi. Dia menciptakan berbagai teori evolusi  modern yang sampai saat ini menjadi landasan bagi semua pengembangan ilmu pengetahuan di bidang biologi.

 Di masa mudanya Charles Darwin memiliki seorang sepupu bernama Sir Francis Galton. Terlahir dari kakek yang sama yaitu Erasmus Darwin. Galton adalah seorang anak yang cerdas dan cemerlang. Semasa mudanya Galton memiliki keahlian di berbagai bidang seperti : meteorology, psikologi, dan kriminologi.

Terlahir sebagai anak ke 5 dari pasangan Robert Darwin dan Susannah Darwin, Charles Darwin tidak memiliki keahlian yang spesifik dan menonjol seperti sepupunya. Bahkan keahlian Darwin pada saat itu dibawah rata-rata anak seusianya. Darwin hanya tertarik untuk mengumpulkan specimen biologis yang saat itu cukup dibilang tidak berguna.

Sir Francis Galton
Robert Darwin adalah seorang dokter yang sukses dan menginginkan Darwin masuk sekolah kedokteran seperti ayahnya. Maka ayah Darwin memasukannya ke University of Edinburgh. Selama masa kuliahnya Darwin adalah mahasiswa yang pas-pasan. Merasa kecewa karena tidak dapat meneruskan nama baik ayahnya di fakultas kedokteran, Ayah Darwin memindahkan Charles ke Christ’s College, Cambridge untuk menjadi seorang anglikan.

Sebagai mahasiswa di Christ College, Darwin tetap pada kegemarannya yaitu mengumpulkan spesimen. Dia selalu bertanya kepada setiap orang bila orang tersebut memiliki specimen baru agar Darwin dapat mengoleksinya. Kegiatan ini Darwin lakukan hingga dia mendapatkan gelar Bachelor of Arts.

Seusai kuliahnya di Christ College, mantan dosennya memberitahukan kepada Darwin bahwa HMS Beagle akan melakukan perjalanan keliling dunia untuk mengoleksi specimen dan dibawa kembali ke Inggris. Walau dengan bayaran yang rendah dan ditentang oleh orang tuanya, Darwin dengan berani mengambil pekerjaan tersebut dan berkeliling dunia.

Awal perjalanan adalah hal yang tidak terlalu baik karena Darwin tidak kuat dengan Mabuk Laut dan kehidupan yang keras dia atas kapal. Awak-awak kapal dan cuaca yang sama-sama tidak bersahabat membuat dia selalu berfikir apakah pekejraan ini adalah pekerjaan yang dia inginkan.

Selama beberapa bulan di laut ahirnya Darwin mencapai Amerika Selatan. Disana dia menemukan berbagai macam specimen, tulang, fossils dan berbagai hal tentang hewan dan tumbuhan yang menarik perhatiannnya. Selama 5 tahun perjalanannya, Darwin terus berada dalam keadaan bahagia tertinggi dalam hidupnya yaitu mendapatkan yang dia cari dan lalu Darwin kembali ke Inggris.

Setelah kembalinya Darwin dari penjelajahan, Darwin menyusun dengan rapi semua temuan dia itu dan mencoba mencari penjelasan tentang hal-hal yang dia temukan. Dengan melihat keragaman dan perbedaan dari specimen-spesimen yang dia temukan, Darwin mendedikasikan dirinya untuk mencari jawaban atas semua karakteristik hewan yang dia temukan.

Lalu pada pertengahan bulan Maret 1836 saat Darwin berusia 27 tahun, Darwin menulis tentang Red Book tentang kemungkinan sebuah spesies berubah menjadi spesies lain yang merupakan teori dari revolusi yang kita gunakan dalam pelajaran.

Kisah Dari Leonardo Da Vinci

Ser Piero da Vinci adalah seorang notaris hokum yang kaya. Leonardo adalah anak tanpa ikatan pernikahan antara ayahnya dengan Caterina, seroang petani biasa. Nama Leonardo adalah” Lionardo di ser Piero da Vinci yang berarti “Leonardo, (anak laki-laki) dari ser Piero dari daerah Vinci” . Kata ser pada ser Piero menandakan Leonardo adalah anak dari seorang yang terpandang.

Karena terlahir sebagai anak diluar ikatan pernikahan, Leonardo tidak masuk ke universitas selayaknya anak terpandang di kota tersebut. Leonardo bahkan mendapatkan pendidikan yang sedikit disbanding anak lainnya. Leonardo banyak menghabiskan waktunya sendiri. Leonardo senang berkelana melihat pemandangan dari hutan-hutan, sungai, air terjun, dan bunga-bunga liar yang tumbuh di sekitar lingkungannya.

Suatu hari Leonardo menyusup ke kantor ayahnya dan mengambil kertas dan beberapa alat gambar yang pada saat itu sangatlah langka. Ayahnya tidak memperhatikan hal tersebut karena banyaknya barang-barang mewah di kantor ayahnya. Setiap hari Leonardo pergi ke hutan dan duduk di sebuah kayu untuk memulai menggambar apa yang dia lihat. Tidak ada guru yang mengajarkan dia cara untuk menggambar. Semua hanya apa yang dia lihat dengan mata kepala sendiri, dia tuangkan kedalam gambarnya. Semasa Leonardo menggambar, Leonardo selalu memperhatikan objek yang dia gambar secara detil dan dia selalu memiliki ambisi untuk dapat menggambar sedetil mungkin mendekati gambar yang menjadi hidup.

Di usia Leonardo yang hanya 14 tahun dan dengan hasil gambarnya yang menakjubkan, dia sudah diterima studio seniman terbaik se-Florentine yaitu studio Andrea di Cione atau dikenal dengan Verrocchio. Yang terkenal dari Verrocchio adalah Verrocchio mengajarkan semua anak didiknya untuk mempelajari ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan gambar yang akan dibuat seperti : mekanik, kimia bahkan metalurgi. Leonardo yang haus akan ilmu tentunya sangat bersemangat menerima ilmu ini.


Annunciation 1472-1475

Suatu saat Verrocchio memberikan tugas pada anak didiknya untuk menggambar seorang malaikat. Leonardo yang terbiasa mengamati lingkungan di sekitarnya dengan sangat detil mulai mempelajari tentang malaikat. Leonardo mencoba mencari tahu bagaimana dia bisa menggambar ekspresi seorang malaikat. Oleh karena itu Leonardo menghabiskan banyak waktu untuk mengamati orang-orang di sekitarnya yang berdoa dengan sungguh-sungguh.

Untuk menggambar sayap dari seorang malaikat, Leonardo mengambil sebuah burung dan mengamati sayap burung secara detil. Tidak hanya bentuk dan karakteristik dari burung tersebut tapi Leonardo juga mengamati bagaimana cara kerja dari sebuah sayap terhadap burung lalu dia mencoba mengimajinasikan bagaimana sayap ini bekerja pada seorang malaikat. Leonardo juga mempelajari tentang ilmu penerbangan dari burung. Bagaimana kontur dan juga bentuk tubuh dari burung mendukung seekor burung untuk terbang.

Karena pengamatan yang begitu panjang, Leonardo membutuhkan waktu yang lama untuk menyelesaikan tugasnya. Verrocchio tidak menyukainya karena Leonardo adalah siswa yang paling lambat diantara yang lain dan keterlambatan dalam pembuatan tugasnya itu dapat dikatakan cukup parah. Tapi Leonardo dari awal tidak suka pengakuan dari gurunya. Semua gambar yang dia lakukan adalah untuk dirinya sendiri dan untuk menciptakan sebuah mahakarya dari hasil pengamatan dengan mata kepalanya sendiri.

Saatnya tiba Leonardo untuk mengumpulkan tugasnya dan Verrocchio pun terkaget melihat hasil karya Leonardo yang sangat nyata, hidup dan mendetil. Karya yang ia berikan seolah-olah bukan dari hasil imajinasinya, melaikan seorang malaikat menawarkan diri turun ke bumi untuk digambar oleh Leonardo. Ekspresi wajahnya, pepohonan yang ada di belakangnya, suasana langit, bentuk sayapnya semua terpadu dalam sebuah harmoni yang menenangkan. Gambar Leonardo pun menjadi sebuah mahakarya pada saat itu. Selebihnya, karya-karya terkenal Leonardo Da Vinci pun terlahir dari kegiatan yang mirip dengan apa ia lakukan sebelumnya.

Jumat, 21 September 2012


Seni dari Kompetisi

Malam ini Jum’at 21 September 2012 saya akan menulis blog pertama saya. Blog ini berisikan pikiran-pikiran yang ada di benak saya dan ingin saya tuangkan. Hari ini saya ingin menulis seni dari kompetisi.

Sebagai laki-laki terlahir dengan hormon testosteron yang membanjiri dengan sangat banyak, kita tidak akan lepas dari yang namanya kompetisi. Dari lahir kita selalu ingin mencoba menang dalam segala keadaan. Mari kita simak cerita seorang anak di warung sedang bermain dengan 2 temannya. Kita sebut saja Adi, Ari dan Ami.  Adi berkata” ayahku kemaren baru pulang dari kampungku. Kakekku punya sawah luasnya  10x rumahku”. Ari yang mendengar hal itu segera merespon “kakek aku juga di daerahnya punya sawah 20x besar rumah ku”. Tak mau kalah Ami langsung menanggapinya “Besaran punya kakek aku. Kakek aku punya sawah berpuluh-puluh ratus kali rumah aku”. Hal ini tidak berhenti sampai di sini. 2 bocah lainnya akan menambahkan dengan sawah punya neneknya, omnya, tantenya atau siapapun. Hal ini lazim terjadi dan saya pun pernah berbicara seperti ini. Sampai saya dewasa pun masih. Karena saya ga mau kalah.

Hormon testosteron adalah hormon yang memicu gairah laki-laki secara biologis dan juga yang membuat laki-laki teramat sangat ingin menaklukkan sesuatu dan menjadi puncak penguasa di dalam berbagai hal. Berbagai macam keinginan seperti ingin mobil paling kencang, rumah paling besar, motor paling keren dan lain lain juga banyak dipengaruhi oleh hormone ini. Ujung-ujungnya yang dicari adalah pengakuan dari pergaulan atau status sosial. Semakin orang diakui di pergaulannya semakin sorang laki—laki beradaptasi dan memproduksi serotonin. Simpanse atau gorilla yang merupakan kerabat terdekat manusia dari sisi biologi juga memiliki ini. Para penguasa atau pejantan alpha (alpha male) memiliki serotonin yang tinggi.

Kembali ke pengakuan. Jika kita pikir, harta orang-orang terkaya di dunia itu pasti lebih dari cukup untuk dia dan keluarganya. Donald Trump, Sir Alan, Theo Paphitis, Aburizal Bakrie, Michael Sampoerna, dll pasti memiliki harta yang bisa dibilang susah untuk habis. Tapi mengapa mereka tetap berusaha sangat keras untuk mencari kekayaan lagi? Salah satu factor kuatnya adalah karena status social dan kompetisi. Mereka pengen diakui dan ingin memenangkan kompetisi sebagai orang terkaya se- (Indonesia, dunia, majalah ini, majalah itu) dll. Dan memang mereka masih laki-laki yang juga dibanjiri oleh hormon testosterone.

Saya mungkin tidak tahu mendalam tentang hormone. Jadi mari kita lihat ke contoh yang lebih sehari-hari.Misalnya, saat kita melakukan sesuatu hal yang cukup berdampak pada pergaulan kita dan orang-orang mengakui kita. Akan timbul suatu perasaan senang yang mungkin kalian sendiri pernah mengalaminya. Saat kalian menemukan sebuah lagu dan teman-teman anda mau meng-copynya dan mendengarkannya. Ketika yang lain bertanya “dapet dari mana tu lagu?” mereka pun menjawab “ dari si itu tuh”. Perasaan itu yang mungkin kalian sendiri bisa merasakannya.

Orang tua pun pada dasasrnya sama dengan kita. Mengajarkan kompetisi sejak usia kita sangat teramat dini. Ketika seorang bocah laki-laki mendapat nilai ulangan yang jelek. Orang tuanya akan berkata, “coba kamun liat si “dia” dapet nilai berapa. Dia aja bisa dapet nilai segitu. Kenapa kamu ga bisa” apakah kalian pernah juga dikatakan seperti ini oleh orang tua kalian? Itu adalah nilai-nilai kompetisi dan pandangan bahwa patokan hidup kita adalah orang lain bukan diri sendiri.

Sebenarnya apa sih yang membuat kompetisi itu bener-bener sangat teramat dikejar? Menurut saya pribadi, sebuah piala itu tidak berarti apa-apa tanpa ada orang-orang yang kalah. Keindahan dari kompetisi adalah melihat orang yang kalah. Sebagai manusia biasa tentunya saya senang melihat orang lain menderita kekalahan. Saya akui itu. Sebuah trofi emas jika semua orang mendapatkannya tidak berarti apa-apa. Tapi sebuat kertas digulung pita yang diberikan pada kita dihadapan puluhan orang yang kalah, sambil melihat beberapa ekspresi yang kesal, yang sedih, dan yang menyesal tentunya cukup menyenangkan bukan? Bahasa halusnya adalah kita dapat melakukan yang orang-orang tidak dapat lakukan, well permainan bahasa. Intinya sama aja.

Akan tetapi, manusia dilahirkan dengan segala macam keterbatasan. Keterbatasan tenaga, sumberdaya atau uang, dan juga waktu.  Di dunia yang populasinya meningkat dengan tajam ini semakin banyak juga kuantitas grup-grup pergaulan. Yang berdampak juga pada banyaknya pilihan untuk berkompetisi. Contohnya:
Geng Mobil        à Kompetisi paling kenceng, ceper, gaul, audio, velg, dll
Celana Denim    à celana nomer 507, merk ini merk itu (saya bukan pecinta denim)
Musisi                   à Gitar Les Paul, Gibson, Epiphone, trik-trik gitar, dll

Dan masih banyak lainnya. Kalian bisa rasakan sendiri kalian berada di mana. Masalahnya, sumberdaya kita terbatas untuk dapat menang dalam kompetisi dan kita harus memilih dimana kita akan berkompetisi. Kalau kita di Geng Mobil, uang kita hanya cukup untuk: Modif mesin ATAU modif suspense ATAU modif cat (visual) ATAU modif audio. Saya mengambil status ekonomi Indonesia pada umumnya. Kalau bicara syekh dari timur tengah sih silahkan nulis sendiri tentang syekh yang make Lambo dilapis emas.
Masalah berikutnya adalah kita ingin menang dari segara aspek. Tapi sumberdaya kita tidak cukup untuk memenuhinya. Uang telah dihabiskan untuk memodifikasi audio, tapi kita juga ingin mobil kita paling kenceng. Jadi bagaimana solusinya? Ada 1 hal yang sangat teramat ampuh untuk mengatasi situasi ini. Yaitu BOHONG!!. Yap benar sekali. Berbohong.

Dengan berbohong kita dapat merekayasa segala cerita dan kita bisa menambahkan bumbu-bumbu hingga terlihat hebat. Kecenderungan yang dilakukan adalah kita berbohong ke kumpulan pergaulan yang tidak terlalu pakar dengan hal itu. Berbohong tentang mesin kepada kumpulan pembalap mobil di sentul itu adalah bunuh diri. Yang didapatkan pasti cemooh. Kecenderungannya adalah kita berbohong ke orang-orang yang tidak terlalu paham. Orang menjadi paling pintar di kalangan orang bodoh dibandingkan jadi orang bodoh di kalangan orang pintar. Apakah saya melakukan hal ini? Tentu saja. Saya sangat menikmati saat-saat saya berbohong pada orang-orang di sekitar saya.

Akan tetapi, sepandai-pandainya tupai meloncat akan jatuh juga. Berbohong itu memiliki sebuah sifat adiktif atau ketergantungan. Contoh pada rokok. Awalnya para perokok, merokok diam-diam di tempat yang aman agar tidak ketahuan lingkungan dia melakukan hal yang tabu. Tapi seiring dosis merokok makin ditambah, akan ada saat dimana seorang perokok tidak perduli lagi apa kata lingkungan. Asalkan dia bisa merokok dan memenuhi hal yang menjadi ketergantungannya itu. Sama halnya seperti bohong. Bohong yang mulai ketahuan akan ditutup dengan kebohongan yang semakin besar lagi. Kebohongan ini berlanjut hingga diri kita hanya diliputi oleh kebohongan. Sampai ahirnya orang-orang tau anda berbohong dengan segala bukti tapi tetap mengelak dan mencoba pergi dari pergaulan itu berharap masalah selesai dengan anda pergi. Namun setelah anda pergi, efek ketergantungan masih melekat di diri anda dan anda mencari pergaulan baru untuk berbohong lagi. Hal ini yang disebut paradox. Semakin kita berbohong, semakin kita membutuhkan kebohongan yang lebih besar. Hal yang paling bijak dilakukan pada paradox ini adalah dengan menghentikannya. Tidak ada gunanya air laut yang semakin diminum semakin membuat anda kehausan karena kandungan garmanya. Hal yang paling tepat adalah berhenti meminumnya. Dalam hal ini adalah berhenti berbohong. Berkata jujur apa adanya.

Kembali ke hal kompetisi. Kalau kita tahu bahwa berbohong bukanlah sebuah pilihan tapi kita ingin memenangkan kompetisi, lantas bagaimana caranya? Jika saya ditanyakan pertanyaan seperti ini, saya akan balik bertanya “Apa tujuan kalian memenangkan kompetisi?” Harga sebuah kompetisi mungkin cukup mahal. Kalian menghabiskan 1 hari waktu dan tenaga dan mungkin dengan persediaan uang 1 minggu untuk menang kompetisi. Contoh konkritnya untuk menang balapan kalian harus bolos kerja 1 hari untuk ke bengkel memodif kendaraan kalian dan menghabiskan sisa uang selama 1 minggu terakhir. Lalu kalian malamnya balapan dan menang. Anda dapatkan apa yang anda inginkan yaitu menang kompetisi. SELAMAT! ANDA PALING CEPAT (Hari ini) lalu selama 5 menit orang-orang bersorak soray kepada anda dan apa yang terjadi setelah itu? Semua orang pulang karena pagi telah tiba dan anda pergi bekerja. Saat makan siang tiba, anda tidak tahu makan apa karena uang anda telah habis untuk memodif mobil anda. Hal ini bila diubah jadi kata-kata akan menjadi SELAMAT! ANDA MENDERITA SELAMA SEMINGGU KEDEPAN!

Keinginan atau nafsu pada diri anda itu bersifat paradox. Semakin kalian mengejar keinginan atau nafsu anda semakin hal itu membingungkan anda dan ujungnya kalian akan kelelahan tanpa mendapatkan apa-apa. Saat seekor ikan di kolam yang berlantaikan pasir mengejar mangsanya, semakin dia mengejar semakin ikan itu mengangkat pasir pasir di dasar untuk menghalangi pengelihatannya. Semakin dia berenang semakin keruh air itu. Air hanya akan surut saat dia berhenti bergerak dan ketika pasir telah surut, dia tidak mendapatkan mangsanya. Yang ada hanyalah kelelahan. Hal ini berlaku pada keinginan anda untuk memenangkan kompetisi. . Lihatlah film-film kartun anak-anak dan bagaimana pemeran antagonis menginginkan kekuatan tapi ujung-ujungnya tidak mendapatkan apa-apa. Coba saja perhatikan.

Di lain sisi kompetisi suatu hal yang sangat mengagumkan saya dapat katakan karena tanpa ada kompetisi tidak akan ada kemajuan di dunia ini. Internet yang saya gunakan untuk mem-post blog ini berasal dari kompetisi Negara-negara di perang dunia silam. Jadi kompetisi tidak buruk-buruk banget. Yang menjadi baik atau buruk adalah tujuan untuk berkompetisi.

Saya selalu berkompetisi dengan orang-orang dewasa agar saya dapat menjadi dewasa untuk bisa mendapatkan pengendalian diri yang tinggi. Menurut saya itu baik dan saya suka kompetisi. Saat saya melihat anak SMA yang jauh bisa mengendalikan dirinya dibanding saya, tentu saya akan mencoba bisa mengalahkannya dengan kembali mengendalikan diri saya lebih baik lagi. Dengan lebih sabar,tenang dan tidak mengeluh. Itu menurut saya baik, bagaimana menurut anda?

Hidup ini penuh keterbatasan dan saya pribadi berharap apa yang saya punya dan saya dapat lakukan itu benar benar bermanfaat. Jika sebuah kompetisi hanya mendapatkan penghargaan selama 5 menit tapi apa yang dikeluarkan jauh-jauh lebih besar dari itu lantas untuk apa berkompetisi. Saat seseorang tidak terlalu banyak mengikuti kompetisi, rasa penasaran akan muncul dari pergaulan yang menanyakan mengapa orang tersebut tidak berkompetisi? Ataupun anda hanya mengikuti kompetisi yang anda minati saja, di situ anda pun mendapat pengakuan sosial sebagai orang yang punya prinsip. Yang didapatkan bukanlah pemenuhan keinginan melainkan rasa hormat dan respect. Bukankah itu hal yang indah?